
Pencarian sia-sia akan petunjuk tentang Monumen Sang Dewi mendorong para sahabat menuju sebuah biara terpencil di tepi tebing dan arsipnya. Sepanjang pendakian yang melelahkan, Heiter membuka hatinya kepada Frieren tentang masa kecilnya bersama Himmel dan mengapa, meski penuh sinisme, ia memilih untuk menaruh kepercayaan pada sang pahlawan.
Sebuah desa baru tidak memberikan jawaban apa pun tentang monumen batunya, dan ketika rombongan yang sudah lelah mendirikan perkemahan malam, Eisen menggerutu atas pengejaran yang tak berkesudahan. Himmel menolak permintaan maaf Frieren, dengan alasan bahwa bahkan pengembaraan semacam ini pun memiliki pesonanya. Heiter menunjukkan bahwa catatan tentang monumen-monumen itu pasti langka, karena jejaknya kembali ke zaman mitos dan sandi-sandinya sulit diuraikan justru karena begitu sedikit yang tersisa hingga kini.
Sambil mempertimbangkan apakah masih ada tulisan yang tersimpan, Frieren memperingatkan bahwa kertas akan lapuk seiring waktu, sebuah kerugian yang ia rasakan betul dari grimoir-grimoir yang perlahan lenyap dari tangannya. Heiter menyarankan sebuah biara, mengingat para biksu biasa menyalin naskah sebagai bagian dari disiplin mereka, sehingga rombongan pun kembali menanyai sebuah gereja desa tentang lokasi biara terdekat. Sang pastor memperingatkan bahwa tempat itu sulit dijangkau, namun Heiter menyela dengan ketenangan mantap bahwa Sang Dewi akan melindungi mereka.
Biara itu bertengger di bibir jurang curam, menempel pada sepetak tebing yang nyaris tak tertahan, dan ketika Eisen bertanya mengapa ada orang yang membangun di sana, Heiter menjawab bahwa lingkungan yang keras justru cocok untuk latihan para biksu. Tak mau ketahuan menggunakan sihir terbang, Frieren ikut serta dalam pendakian panjang yang berat bersama yang lain, dan saat istirahat di depan api unggun menjelang senja, Himmel dan Eisen dengan riang menikmati dinding-dinding batu yang masih harus mereka hadapi.
Jeda itu berubah menjadi renungan ketika Heiter menyebutkan bahwa ia dan Himmel tumbuh di kota yang sama, sebuah fakta yang membuat Frieren terkejut karena ia ternyata sering lupa meski sudah berkali-kali diberitahu. Heiter menggambarkan temannya sebagai sosok yang tak kenal putus asa, seorang pria yang telah membuktikan setiap keraguannya salah, dan mengaku bahwa meski sinisnya mengatakan Raja Iblis takkan pernah bisa dikalahkan, ia tetap mempercayai Himmel sang Pahlawan. Akhirnya, rombongan berhasil mencapai puncak hanya untuk menemukan arsip yang kosong, dan ketika Himmel dengan santai menyebutkan tujuan berikutnya, Frieren yang tenggelam dalam buku-buku mulai mempertanyakan optimisme tanpa batasnya.
Edisi ke-42 memuat bab ke-112 ini pada 13 September 2023, terdiri dari enam belas halaman yang termasuk dalam volume kedua belas dan alur Monumen Sang Dewi. Perjalanan mereka melewati Jalur Kino menuju sebuah desa dan kemudian ke biara di tepi tebing, dengan sihir terbang hanya disebutkan tanpa digunakan. Sampulnya menampilkan Himmel dan Heiter, dan baik Dewi Pencipta maupun Raja Iblis keduanya disebutkan.

Transformasi yang semua orang tahu, pertanyaan lanjutan yang tak seorang pun berani sentuh. Kenapa kami bikin lagu R&B mulus tentang cahaya emas yang tak pernah dibahas Dragon Ball....

Lima karakter wanita Bleach, diperingkat dan dituntaskan. Yoruichi ada di nomor lima, posisi yang tidak diduga siapa pun, dan nomor satu kami adalah seorang Arrancar berhati lembut....
Dalam Bab 112, Faith dan para rekannya mendaki ke sebuah biara terpencil di tepi tebing untuk menyelidiki arsipnya demi menemukan petunjuk tentang Monumen Sang Dewi, sementara Heiter membuka hatinya kepada Frieren mengenai ikatannya dengan Himmel.
Dalam Bab 112, Heiter mengakui bahwa meskipun sikap sinisnya membuatnya merasa Raja Iblis takkan pernah bisa dikalahkan, ia tetap menaruh keyakinannya pada Himmel sang Pahlawan, seorang sahabat yang penuh harapan tanpa henti dan telah membuktikan setiap keraguannya salah.
Dalam Bab 112, Heiter menyebutkan bahwa ia dan Himmel dibesarkan di kota yang sama, sebuah fakta yang membuat Frieren terkejut karena ia ternyata kerap melupakannya meski sudah sering diberi tahu.
Dalam Bab 112, Heiter menjelaskan bahwa biara tersebut bertengger di tepi jurang curam karena lingkungan yang keras seperti itu sesuai dengan proses pendidikan seorang biksu.
Sampul Bab 112 menampilkan Himmel dan Heiter, mencerminkan fokus bab ini pada renungan Heiter tentang sahabat seumur hidupnya.
Mencari informasi lebih lanjut tentang Bab 112: Keyakinan? Wiki Frieren di Fandom memiliki halaman khusus dengan catatan komunitas.
Lihat di FandomKonten ini merupakan tulisan asli oleh Daddy Jim Headquarters berdasarkan seri anime, manga, dan materi resmi Frieren: Beyond Journey's End. Referensi episode dan bab dicantumkan jika berlaku.
Gambar karakter dan adegan di situs ini adalah karya seni asli oleh Daddy Jim Headquarters, bukan tangkapan layar atau gambar berlisensi. Cover art resmi digunakan pada tiga jenis halaman untuk komentar editorial:
Sumber resmi:
Daddy Jim Headquarters memelihara ensiklopedia ini. Jika kamu menemukan kesalahan, masalah terjemahan, atau sesuatu yang tampak tidak benar, beri tahu kami.